Sabtu, 18 April 2009

Oleh-oleh dari Banjarmasin

Huaaaa…….setelah sebulan libur dari nge-blog-ria, akhirnya bisa juga update blog. Bukannya selama sebulan ngga ketemu ma inet coz di rumah Bjm juga pake Speedy, tapi ngga ada waktu buat nyiapin updetannya. Selama di Bjm cuma bisa cek imel atau chat seperlunya, seperlunya banget. Gimana bisa lama-lama di depan computer kalo harus jagain wafi full, dia lari kesana-kemari ngejar abang-abangnya yang lincahnya ngga ketulungan. Kalo dibiarin takutnya jadi korban tabrak lari. Kalo Wafi dah tidur, juga ikut ketiduran coz badan rasanya pegal-pegal ikut berlarian sepanjang waktu. Kalo pun pas ada waktu, komputernya yang lagi dipake Bunda. Walah…walah…. Banyak halangan atau alasan ya???

Banyak cerita dari Bjm, tapi kalo diceritain semua takutnya yang baca bosan.  Jadi ceritanya yang ada foto-fotonya aja ya, biar siip.

Ini waktu kita jalan-jalan ke Pantai Tangkisung. Lokasinya keluar kota Banjarmasin. Ngga ada rencana sebelumnya. hari itu pas Pemilu, dirumah Pekauman ngumpul semua anggota keluarga kecuali Om Nanang yang lagi dinas ke Sampit. Numpuk dalam kamar yang satu-satunya pake AC kaya cucian kotor (semua belum pada mandi), Papah dan Bunda jadi dapat ide buat jalan-jalan. Telpon Uwa Udin buat pinjam mobil, trus siap-siap. Soal tujuan ngga punya sama sekali. Pas udah on the way baru dapat id eke Pantai Tangkisung. Lokasinya di luar kota Banjarmasin, dah masuk Kabupaten Tanah Laut. Pas di jalan kita nerima telpon dari adiknya Papa Ndut (suaminya Bunda, red) yg ngasih tau bahwa tadi malam Mama Pelaihari (nama ibukota Kabupaten Tanah Laut, red) yg adalah mertua Bunda hampir kena stroke. Jadilah kami berniat skalian akan mampir kesana.

Mo liat gimana ekspresi Abang-abang Wafi gitu liat air sepanjang mata memandang atau gaya-gaya gokilnya komplotan spongebob? Pelototin aja foto-fotornya di bawah ini

Pantai Tangkisung, Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan


Bundanya Wafi, kaka kedua Mama


Baru nyampe langsung mejeng


Hari yang cerah buat tamasya.....


Foto model yang ngga pernah dapat honor


Aa Ica & Abang Faisal, anak pertama dan kedua Bunda


Abang Adi, anak ketiga Bunda

Abang Rian, anak bungsu Bunda

GIBRAN SAID

TENTANG CINTA
"Jika cinta memanggilmu, ikutlah dia, walaupun melewati jalan terjal dan berliku.
Dan apabila sayapnya merengkuhmu, pasrahlah, walaupun pedang yang tersembunyi di sela sayapnya melukaimu. Dan apabila dia bicara kepadamu, percayalah, walaupun ucapannya membuyarkan mimpi indahmu, bagai angin utara mengobrak-abrik pertamanan hatimu"

TENTANG PERKAWINAN
"Berpasanganlah engkau sudah diciptakan sedemikian rupa, dan selamanya kau juga akan berpasangan.
Berpasanganlah kalian dikala sang maut datang menjemput umurmu.
Ya, bahkan bersama pula kalian, dalam ingatan sunyi Tuhan. Namun biarkan ada ruang dalam kebersamaan itu, tempat angin surga menari di antara kalian.
Saling mencintalah, namun jangan sampai membelenggu cinta, biarkanlah cinta itu bergerak senantiasa seperti aliran air sungai yang mengalir lincah diantara kedua belahan jiwa.
Saling isilah piala minumanmu, tapi jangan minum dari satu piala. saling bagilah rotimu, tapi jangan kau makan dari piring yang sama.
Bernyanyilah dan menarilah bersama-sama dalam segala suka cita, namun biarkanlah masing-masing menghayati akan keunggulanNya. Tali rebana memiliki suara masing-masing, tapi akan lebih indah jika dipetik bersamaan.
Berikan hatimu, namun jangan saling menguasakannya, sebab hanya Tangan Kehidupan yang akan mampu menggapainya. tegaklah berdiri berjajar, namun jangan terlalu dekat.
Bukankah tiang-tiang penyangga candi tidak dibangun terlalu rapat?
Dan pohon jati serta pohon cemara, tidak tumbuh dalam bayangan satu dengan lainnya"

TENTANG ANAK-ANAK
"Anakmu bukan milikmu. Mereka putra-putri sang Hidup yang rindu pada diri sendiri. Lewat engkau mereka lahir, tapi bukan dari engkau. Mereka ada padamu, tapi bukan kepunyaanmu.
Berikan mereka kasih sayangmu. Tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu. Sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri. Patut kau berikan rumah untuk raganya. Tapi, tidak untuk jiwanya. Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan. Yang tiada dapat kau kunjungi, sekalipun dalam mimpi.
Kau boleh berusaha menyerupai mereka. Namu, jangan membuat mereka menyerupaimu. Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur. Pun tidak tenggelam di masa lampau.
Engkau busur dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur. Sang Pemanah maha tahu sasaran bidikan keabadian. Dia merentangkanmu dengan kekuasaan-Nya. Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat. Meliuklah dengan sukacita dalam tentangan tangan Sang Pemanah. Sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat. Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap.

DARI SANG NABI